Samsatir Akui Tidak Pernah Damai, Latif Datang Bujuk Uang Rp 2.5 Juta

Ilustrasi petani kelapa sawit.

NUNUKAN, Pembawakabar.com- Petani kelapa sawit di Pulau Sebatik bernama Samsatir mengaku pernah didatangi di rumahnya oleh Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Mamminasae Latif bersama seorang rekannya dengan dibujuk uang sebesar Rp2,5 juta untuk perawatan perkebunan kelapa sawit miliknya.

Uang tersebut sebagai bentuk telah berdamai sebagaimana pemberitaan pada salah satu media online. Padahal, saat dihubungi via telepon selulernya pada Jumat malam, 16 Juli 2021, Samsatir membantah keras telah berdamai dan tidak menuntut lagi haknya bersama petani kelapa sawit lainnya.

Bacaan Lainnya

Ia mengaku uang bujukan tersebut ditolak dengan alasan bukan untuk kepentingan pribadinya saja. Perjuangannya terkait dengan dana bantuan sebesar Rp9 miliar itu adalah kepentingan bagi seluruh petani kelapa sawit yang merasa dirugikan Gapoktan Mamminasae.

“Saya tolak itu tawaranmu, apalah dibilang orang lain kalau saya makan sogok sama kau. Saya berjuang ini bukan untuk diri sendiri tapi kepentingan demi orang banyak, iya begitu ceritanya,” ungkap Samsatir.

Bantuan Program Peremajaan Sawir Rakyat (PSR) ini yang disalurkan kepada petani kelapa sawit di Pulau Sebatik disampaikan Samsatir jumlahnya sebesar Rp9 miliar oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) pada 2020. Dana ini diperuntukkan membiayai peremajaan kelapa sawit dengan tujuan meningkatkan produksi (replanting).

Menyinggung soal dirinya telah berdama dengan Latif (Ketua Gapoktan Mamminasae) saat didatangi di rumahnya. Ia juga membenarkan bahwa Latif bersama rekannya mendatangi rumahnya dengan tujuan menawarkan uang Rp2,5 juta tersebut.

Ia pun mengaku disuruh berjabat tangan oleh temannya baru difoto. Tetapi berjabat tangan dengan Latif bukan berarti sudah berdamai tetapi hanya sekadar menghargai tamu saja. Tidak ada niat untuk menghentikan keberatannya atas haknya terkait bantuan dana PSR tersebut.

Baca Juga Dong:  Kobarkan Semangat Nasionalisme Warga, Pemdes Binusan Kibarkan Ratusan Bendera Merah Putih

“Saya itu disuruh jabat tangan jadi saya jabat tangan sama Latif karena menghargai sebagai tamu. Waktu bicara dan jabat tangan itu saya dishuting sama temannya yang mengaku wartawan. Memang saya dibujuk diberikan uang 2,5 juta katanya untuk biaya racun dan tumbang kelapa sawit tapi saya tolak,” terang dia.

“Saya tidak pernah damai. Memang saya ditawari uang tapi saya tolak,” tegas Samsatir mengulangi ucapannya dengan nada agak jengkel atas pemberitaan salah satu media.

Samsatir juga menjelaskan Gapoktan Mamminasae tidak pernah memberitahukan kepada petani kelapa sawit di Pulau Sebatik mengenai nama kelompoknya. “Kami petani ini tidak pernah dikasitau nama kelompoknya,” ujar dia. (***)

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan