Sekjen AMAN Apresiasi Ketahanan Budaya Tidung, Dorong Pemetaan Wilayah Adat

Sekjan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Ibu DR. ROKKA SAMBOLINGGI

Nunukan, Pembawakabar.com – Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi, menyampaikan apresiasi terhadap masyarakat Tidung yang dinilai mampu mempertahankan identitas dan tradisi adat di tengah perkembangan perkotaan. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri kegiatan di Baloy Adat Tidung Binusan, Kamis (12/3/2026).

Dalam sambutannya, Rukka menyebut masyarakat Tidung memiliki kekayaan pengetahuan tradisional, salah satunya kemampuan pengobatan tradisional yang dikenal dengan sebutan Badewa. Menurutnya, tradisi tersebut menjadi bukti kuatnya warisan budaya yang masih dijaga hingga kini.

Bacaan Lainnya

“Saya senang sekali, karena di tengah kondisi masyarakat adat yang banyak menjadi korban dari berkembangnya perkotaan, masyarakat Tidung justru tetap bertahan. Kecil, tetapi berkualitas,” ujarnya.

Pada kesempatan itu, Rukka juga mengaku bangga karena mendapat kehormatan menerima selendang adat Tidung sebagai simbol persaudaraan. Selendang tersebut, katanya, menjadi tanda ikatan kekeluargaan yang membuat siapa pun yang mengenakannya akan dikenali sebagai bagian dari saudara masyarakat Tidung di mana pun berada.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada tokoh yang disebutnya sebagai “Pak Haji” yang selama ini menjadi motor penggerak dalam menjaga persatuan masyarakat Tidung.

Menurutnya, keberadaan sosok pemimpin sangat penting dalam menjaga kekuatan dan keberlanjutan gerakan masyarakat adat.

“Apapun yang kita lakukan tidak akan berhasil dan tidak akan langgeng kalau kita tidak punya sosok yang memimpin dan menjadi penggerak. Untuk masyarakat Tidung di tempat ini, ada Pak Haji yang menjadi penggerak itu,” katanya.

Selain itu, Rukka menekankan pentingnya pemetaan wilayah adat bagi masyarakat Tidung. Ia menyebutkan bahwa peta wilayah adat memiliki peran penting untuk mendokumentasikan sejarah, pengetahuan, serta praktik tradisi agar dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Menurutnya, generasi saat ini memiliki cara belajar yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika dahulu pengetahuan diwariskan melalui tradisi lisan dari orang tua, kini generasi muda cenderung lebih percaya pada informasi yang diperoleh melalui teknologi digital.

Karena itu, ia mendorong agar pemetaan wilayah adat dilakukan sekaligus dengan digitalisasi informasi budaya dan sejarah masyarakat Tidung.

“Pemetaan dan digitalisasi informasi tentang wilayah adat dan masyarakat Tidung penting, supaya generasi berikutnya tetap bisa mengenal, mengingat, dan melestarikan sejarah serta ilmu pengetahuan leluhur mereka,” jelasnya.

Ia menambahkan, penggunaan teknologi komunikasi modern menjadi langkah penting untuk menjembatani kesenjangan komunikasi antar generasi, sehingga tradisi dan sejarah masyarakat adat tidak dianggap sekadar mitos, tetapi dipahami sebagai bagian dari realitas sejarah yang harus dijaga dan diwariskan.(Ov/Zh)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *