
NUNUKAN, Pembawakabar.com– Kunjungan Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), Rukka Sombolinggi, ke Baloy Adat Tidung Binusan, Kamis (12/3/2026), disambut hangat oleh masyarakat adat Tidung di Kabupaten Nunukan.
Koordinator Adat Tidung Nunukan, H. Sura’i, yang juga menjabat sebagai Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Nunukan, menyebut kedatangan Sekjen AMAN merupakan sebuah rezeki besar bagi komunitas masyarakat adat Tidung di daerah tersebut.
Menurutnya, Rukka Sombolinggi merupakan pejabat tertinggi di organisasi AMAN yang menaungi puluhan juta masyarakat adat di Indonesia.
“Kunjungan Sekjen Aliansi Masyarakat Adat Nusantara ini tentu sebuah rezeki besar bagi kami, seluruh komunitas masyarakat adat Tidung di Nunukan. Beliau adalah pejabat tertinggi di aliansi adat yang menaungi sekitar 80 juta jiwa,” ujar Sura’i.
Ia menjelaskan, kunjungan tersebut pada dasarnya berkaitan dengan agenda pendampingan terhadap perkara yang melibatkan komunitas adat dengan pihak perusahaan. Namun karena lokasi perkara berada di wilayah adat Tidung, masyarakat setempat menyambut kedatangan Sekjen AMAN dengan jamuan adat di rumah adat Tidung.
“Walaupun perjalanan beliau untuk mendampingi adanya perkara antara komunitas adat dengan perusahaan, tetapi karena tempat perkara itu berada di wilayah adat Tidung, maka kami adakan jamuan seperti hari ini di rumah adat,” jelasnya.
Dalam pertemuan tersebut, masyarakat Tidung juga memanfaatkan kesempatan untuk berdialog dan mendapatkan berbagai pengetahuan serta pencerahan dari Sekjen AMAN mengenai penguatan masyarakat adat.
Sura’i menegaskan, meskipun masyarakat Tidung tergolong minoritas di daerahnya sendiri, mereka harus tetap percaya diri dan berdiri tegak di tanah sendiri dengan tetap mengayomi seluruh suku yang hidup berdampingan di Kabupaten Nunukan.
“Kami harus tetap percaya diri dan tegak berdiri di tanah sendiri, tetapi juga tetap mengayomi suku-suku lain yang ada di Kabupaten Nunukan,” katanya.
Pada kesempatan itu, pihak adat Tidung juga menyerahkan cendera mata berupa selendang putih yang disebut Selendang Dadah Darai, sebuah simbol adat yang sangat dihormati dalam tradisi Tidung.
Sura’i menjelaskan bahwa pada masa lalu selendang tersebut hanya boleh dikenakan oleh raja atau bangsawan. Namun setelah Musyawarah Besar masyarakat Tidung pada tahun 2006 yang melibatkan wilayah Tarakan, Bulungan, Malinau, Tana Tidung dan Nunukan, selendang itu dapat diberikan kepada pejabat atau tokoh tertentu sebagai simbol persaudaraan.
“Sejak saat itu, siapa yang menerima selendang tersebut dianggap telah menjadi bagian dari keluarga besar suku kaum Tidung, baik di Indonesia, Malaysia, Filipina maupun Brunei Darussalam,” ungkapnya.
Ia juga menceritakan legenda asal-usul selendang tersebut yang berkaitan dengan kisah tujuh bidadari yang turun di wilayah Sebuku dan pernikahan salah satunya dengan seorang pemuda Tidung bernama Yaki Betawol.
Menurut cerita turun-temurun, selendang itu ditinggalkan oleh sang bidadari kepada anaknya sebelum kembali ke kayangan, dan dipercaya memiliki kekuatan menenangkan ketika anak tersebut menangis atau sakit.
Sura’i mengatakan, kisah perjalanan sang bidadari yang singgah di berbagai tempat seperti Sebuku, Sebatik hingga wilayah lain di Asia Tenggara dipercaya menjadi asal-usul penyebaran masyarakat Tidung di beberapa negara.
“Dari tempat-tempat persinggahan itulah kemudian muncul keturunan masyarakat Tidung yang tersebar di Indonesia, Malaysia, Filipina hingga Brunei Darussalam,” tuturnya.
Ia menambahkan, sejarah dan legenda tersebut telah dikaji selama beberapa tahun dan menjadi salah satu dasar pelestarian sejarah budaya masyarakat Tidung yang kini juga diperkenalkan melalui Baloy Adat Tidung sebagai pusat kegiatan adat dan budaya di Nunukan. (Ov/Zh)









