Warga Pesisir Merasa Lega Atas Kesepakatan BWS Kalimantan V, Pembangunan di Mulai Dititk STA 0-200 Meter

rapat pembahasan Pembangunan Breakwater di Balai Desa Tanjung Aru.

NUNUKAN-Persoalan Pemindahan Batu Breakwater atau Penahan ombak di titik STA 0-200 Meter yang membuat warga Pesisir Desa Tanjung Aru naik Pitam, berhasil di diselesaikan dengan pertemuan langsung antara warga dengan Kepala Balai Pengawas Sungai Kalimantan V Tanjung Selor.

Turut hadir Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Nunukan, Ir Sufyang, Anggota DPRD Nunukan, Hamsing, S. Pi, Perwakilan Bappeda Nunukan Andi Astuti, Kepala desa Tanjung Aru Budiman juga Kontraktor dan Konsultan, Rabu (21/4)

Bacaan Lainnya

Dalam Pertemuan ini, Warga meminta untuk pembangunan pemecah ombak  di fokuskan di titik STA 0- 200 Meter, karena dititik nol merupakan titik terparah abrasi yang terjadi bertahun-tahun.

Kepala Desa Tanjung Aru, Budiman menyampaikan Masyarakat kami yang ada di pesisir pantai ini sangat kasian, karena telah beberapa tahun merasakan kehilangan rumah dan beberapa rumah ada yang  terancam dengan hantaman gelombang.

“Selaku Kepala desa tentu kami sangat memahami bagaimana perasaan warga yang kehilangan rumah karena hantaman gelombang. Setiap ada kunjungan desa Tanjung Aru menjadi desa pertama di kunjungi, karena Desa Kami adalah pusatnya Abrasi,” tuturnya.

Budiman menuturkan, Pihaknya sudah sejak lama memohon kepada pemerintah untuk di usulkan ke Pusat, dan tahun ini baru di kabulkan.

“Ini sudah sejak lama kita usulkan dan Alhamdulillah usulan kita sudah di kabulkan, Cuma permasalahannya kita mau tepat sasarannya. Kalau pihak pekerja memindahkan tempat sasarannya apakah ada yang memperhitungkan gelombang ini kapan datang dan kita juga tidak bisa prediksi tahun depan ada lagi anggarannya. Karena anggaran sudah ada sebaiknya dimanfaatkan dengan yang ada, jangan menunggu tahun depan yang belum tentu ada,” terangnya.

Baca Juga Dong:  Polsek Sebatik Timur Gagalkan Penyelundupan Sabu asal Malaysia

Sementara itu Kepala Dinas PUPR Kabupaten Nunukan, Sufyang menyampaikan persoalan saat ini merupakan persoalan kurang komunikasi, karena persoalannya hanya pembangunan di titik STA 00-200 meter.

“Solusinya adalah pemecah ombak di bangun dari titik nol, Permintaan masyarakat ini dimulai dari titik nol, jadi ini saja solusinya,” ujarnya.

Setelah membahas puncak permasalahan, pihak Balai Pengawas Sungai Kalimantan V Tanjung Selor akhirnya memenuhi permintaan masyarakat, pembangunan pemecah ombak di titik STA 0-200 meter akan dibangun kembali. Ini memang prioritas untuk warga, kita akan bangun mulai di titik nol dan menyetop pembangunan di utara.

“Saya kira ini tidak ada masalah, karena yang mengikat lokasi kerjaan saja, karena  lokasi fokusnya di Tanjung Aru. Untuk lokasi penempatan saya setuju sekali dengan masyarakat karena pekerjaan yang kami laksanakan memang melindungi abrasi dari masyarakat, ini yang memang di prioritaskan dan saya kira tidak ada masalah dan ini tidak akan pindah lagi, ” jelas Kepala BWS Kalimantan V, A Subaidi.

Adapun kesepakatan yang ditanda tangani bersama:

  1. Bahwa Pelaksanaan Pembangunan Breakwater di wilayah Desa Tanjung Aru dakan tetap dilanjutkan dimulai titik Sta 00+00 sampai dengan ST 200+00
  2. Bahwa untuk pintu/jalur masyarakat untuk beraktivitas di laut dibuat dengan ukuran 30 meter. (*)

Tinggalkan Balasan