Wisata Hutan Mangrove Sei Fatimah Siap Jadi Destinasi Wisata Alam Unggulan dengan Pesona Ekosistem yang Luar Biasa

NUNUKAN – Kabupaten Nunukan semakin memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata alam di Kalimantan Utara dengan hadirnya Wisata Hutan Mangrove Sei Fatimah yang berlokasi di Desa Binusan. Kawasan yang dikelola secara bersama oleh pemerintah desa ini siap menyambut pengunjung dari berbagai daerah dengan pesona alam yang menakjubkan dan fasilitas yang memadai.

Bacaan Lainnya

Jam operasional destinasi ini ditetapkan setiap hari Sabtu dan Minggu, mulai pukul 09.00 hingga 18.00 WITA, memberikan kesempatan bagi masyarakat yang ingin menghabiskan akhir pekan dengan menikmati keindahan alam mangrove. Tarif masuk yang ditetapkan sangat terjangkau, yaitu Rp.5 ribu per orang dewasa, sementara untuk anak-anak digratiskan. Selain itu, pengunjung juga mendapatkan fasilitas area parkir yang luas secara gratis, yang dapat menampung hingga puluhan kendaraan roda empat dan dua sekaligus, sehingga tidak perlu khawatir akan kesulitan mencari tempat untuk menyimpan kendaraan saat berkunjung.

Wisata Hutan Mangrove Sei Farimah mencakup luas kawasan sekitar beberapa hektar dan memiliki berbagai jenis tumbuhan bakau yang beragam, mulai dari jenis bakau api-api, bakau pedada, hingga bakau ranting gading yang tumbuh subur di sepanjang rawa dan pantai pasang surut. Keberadaan berbagai jenis bakau ini tidak hanya memberikan keindahan visual yang memukau, tetapi juga berperan penting sebagai penyangga alam yang melindungi daratan dari abrasi pantai dan sebagai rumah bagi berbagai jenis makhluk hidup.

Di antara hewan yang dapat ditemukan di kawasan mangrove ini adalah berbagai jenis kepiting, mulai dari kepiting bakau hingga kepiting rajungan yang hidup di antara akar-akar bakau. Namun, daya tarik utama lainnya adalah keberadaan kelompok bekantan (Nasalis larvatus), primata khas Kalimantan yang mudah dikenali dengan hidung panjangnya yang khas serta monyet ekor panjang. Pengunjung dapat melihat langsung aktivitas bekantan yang sedang mencari makan atau bermain di antara ranting pohon bakau, terutama pada pagi dan sore hari sesuai dengan jam operasional kawasan.

Kepala Desa Binusan, Rudihartono, kepada Pembawakabar.com, Jumat (6/2), menyampaikan bahwa pengelolaan wisata mangrove ini dilakukan dengan prinsip berkelanjutan untuk menjaga kelestarian ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. “Kami mengembangkan Wisata Hutan Mangrove Sei Fatimah bukan hanya sebagai tempat rekreasi semata, tetapi juga sebagai sarana edukasi bagi masyarakat luas tentang pentingnya menjaga ekosistem mangrove yang merupakan paru-paru dunia dan rumah bagi banyak spesies langka,” ujar Rudihartono.

Menurutnya, jam operasional yang ditetapkan pada akhir pekan diharapkan dapat memudahkan banyak orang untuk berkunjung, baik dari kalangan pekerja maupun keluarga yang biasanya memiliki waktu luang pada hari Sabtu dan Minggu. Beberapa masyarakat Desa Binusan juga telah mendapatkan manfaat langsung dari keberadaan destinasi wisata ini, baik sebagai penjaga kawasan, maupun pedagang yang menjual makanan dan oleh-oleh khas lokal.

” Kami juga telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan fasilitas di kawasan, seperti membangun jalur trekking yang aman, tempat istirahat yang nyaman, serta papan informasi tentang jenis-jenis bakau dan hewan yang ada di sini,” tambahnya.

Untuk memastikan kelestarian kawasan, pengelola juga telah menetapkan peraturan khusus bagi pengunjung, seperti larangan untuk memotong atau merusak tumbuhan bakau, larangan membuang sampah sembarangan, serta larangan untuk memberi makan atau mengganggu hewan yang hidup di kawasan. Selain itu, pengelola juga menyediakan tempat sampah yang terpisah dan mengadakan kegiatan penyuluhan secara berkala kepada masyarakat dan pengunjung tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian alam.

Wisata Hutan Mangrove Sei Fatimah sangat mudah dijangkau, dengan waktu tempuh hanya kurang lebih 30 menit dengan kendaraan dari pusat kota Nunukan. Pengelola menyambut baik kunjungan dari individu, keluarga, maupun kelompok wisata, dan juga membuka kesempatan untuk melakukan kegiatan outbound atau edukasi lingkungan di kawasan ini dengan pendaftaran terlebih dahulu, terutama jika ingin mengunjunginya di luar jam operasional reguler.(**)

Dengarkan Kami di Aplikasi Solatafm Nunukan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *