Akses Jalan Jadi Kendala Layanan Kesehatan di Binusan, Puskesmas Harap Perbaikan Infrastruktur

NUNUKAN – Berbagai kendala infrastruktur masih menjadi tantangan bagi Puskesmas Binusan dalam memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat, terutama pada saat merujuk pasien maupun melakukan kunjungan ke wilayah-wilayah yang sulit dijangkau. Hal ini disampaikan oleh Ahmad, petugas bagian keuangan Puskesmas Binusan, dalam wawancara terkait hambatan pelayanan di lapangan, Rabu(26/11/25).

Bacaan Lainnya

Menurut Ahmad, saat di temui proses rujukan pasien kerap terganggu akibat menunggu antrean kendaraan dari pusat kota menuju wilayah Binusan. “Kadang kita harus nunggu antrian dulu teman-teman dari kota mau ke sini, karena kondisi jalannya memang begitu adanya,” ujarnya.

Kendala serupa juga dirasakan saat petugas melakukan kunjungan lapangan, terutama ke wilayah posyandu yang akses jalannya rusak. Pada musim hujan, kunjungan bahkan sering tertunda. “Kalau musim hujan, sudah. Kita tahan-tahan untuk melakukan kunjungan ke sana karena risikonya tinggi,” jelasnya.

Ahmad juga menyoroti persoalan kewenangan pengelolaan jalan yang kerap membingungkan masyarakat, apakah menjadi ranah pemerintah desa, kabupaten, atau provinsi. Hal itu terungkap saat ia menghadiri pertemuan di Kantor Desa Tega Hari. “Saya sempat tanya, yang disebut jalan provinsi itu yang bagaimana? Terus yang bisa diambil alih desa itu yang bagaimana? Itu sempat dijelaskan, tapi masyarakat memang banyak yang bingung,” terangnya.

Sementara itu, sejumlah titik jalan menuju posyandu masih menjadi masalah utama. Ahmad menyebutkan salah satunya di RT 7 Sungai Banjar. Ia telah berkoordinasi dengan ketua RT setempat agar pengusulan pembangunan badan jalan menuju posyandu dapat diakomodasi. “Saya sampaikan, kira-kira ada usulan tidak untuk bangun jalan ke posyandu? Dan ternyata masuk dalam usulan Musrenbang kemarin, tapi masih tahap pengusulan, belum penetapan,” katanya.

Beberapa wilayah lain juga sulit dijangkau, seperti RT 8 dan RT 15. Ambulans bahkan tidak dapat masuk karena medan jalan hanya memungkinkan dilalui kendaraan roda dua. Kondisi ini juga dirasakan sejak masa program PIS-PK, ketika Puskesmas Binusan masih bergabung dengan Puskesmas Nunukan. “Kalau roda empat susah masuk, medannya cukup berat,” ujarnya.

Dengan luasnya wilayah pelayanan Puskesmas Binusan—yang terbagi dua oleh bentang geografis—petugas kerap harus mengadakan kunjungan pengobatan ke daerah-daerah yang tidak terjangkau, termasuk wilayah yang berbatasan langsung dengan Desa Mamolo.

Ahmad berharap melalui publikasi ini, persoalan infrastruktur jalan dapat mendapat perhatian dari pemerintah, termasuk dari anggota DPRD Nunukan. Ia juga kembali menekankan pentingnya pembangunan semenisasi jalan menuju posyandu karena berdampak langsung pada kelancaran layanan kesehatan. “Petugas posyandu saja kesulitan ke sana. Kalau musim hujan, kadang kita tidak berani karena faktor risiko,” tutupnya.(HZ)

[jetpack-related-posts]