
NUNUKAN – Seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) di RT 19, Kelurahan Nunukan Tengah, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara mengeluhkan kondisi tempat tinggal mereka yang sudah tidak layak huni.
Mince Kulat, mengaku rumah yang ia tempati bersama keluarga terbuat dari bahan seadanya, termasuk atap dari seng bekas yang kini banyak berlubang.
“Bekas seng yang kami pakai sudah bolong semua. Kalau hujan, kami cuma bisa tunggu reda, baru dilap, baru bisa tidur,” tutur Mince dengan nada pasrah, kepada pembawakabar.com, Selasa (7/10/2025).
Ia menambahkan, rumah tersebut dibangun di kawasan perbukitan setelah sebelumnya mereka harus pindah akibat rumah lama kebanjiran. Namun, hingga kini, Mince dan keluarganya belum pernah menerima bantuan perbaikan rumah maupun bantuan sosial dari pemerintah.
“Kami dulu tinggal di pinggir sungai, tapi sering kebanjiran. Jadi kami pindah ke bukit. Kami ini orang susah, kerja cuma cukup untuk makan. Mau beli seng baru juga tidak punya uang,” ujarnya.
Meski sudah hampir sepuluh tahun tinggal di lingkungan RT 19, Kelurahan Nunukan Tengah tersebut, Mince mengatakan belum pernah ada pendataan dari pihak RT atau pemerintah untuk bantuan bagi warga kurang mampu.
“Kalau data penduduk ada, tapi kalau data untuk warga tidak mampu, kami belum pernah didata. Bantuan seperti BPNT pun baru kami dapat satu bulan terakhir, itu pun karena kami urus sendiri,” jelasnya.
Mince berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi masyarakat yang tinggal di wilayah perbukitan Nunukan Tengah, terutama mereka yang belum tersentuh bantuan perbaikan rumah.
“Kami cuma berharap ada perhatian. Rumah kami sudah bocor di mana-mana, tapi mau bagaimana lagi, kami cuma bisa bertahan,” katanya.
Lebih lanjut, Mince mengungkapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia dan suaminya biasanya mencari kelapa untuk dijual. Namun, karena tidak memiliki modal, sang suami terpaksa bekerja serabutan.
“Untuk makan sehari-hari, kami biasanya mencari kelapa di kebun milik orang. Kalau tidak ada, suami mencari pekerjaan apa saja, yang penting bisa untuk makan hari itu,” tutur Mince dengan nada lirih. (*)