
NUNUKAN, Pembawakabar.com— Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Kalimantan Utara resmi melakukan soft launching program “Pelabuhan Siap QRIS” di Pelabuhan Liem Hie Djung, Kabupaten Nunukan, Selasa (19/5).
Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ekosistem digitalisasi sistem pembayaran, khususnya di sektor transportasi laut yang selama ini menjadi penopang utama mobilitas masyarakat di wilayah perbatasan Kalimantan Utara.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara, Reza Hidayat, mengatakan implementasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di kawasan pelabuhan diharapkan mampu memberikan kemudahan transaksi bagi masyarakat maupun pelaku usaha.
“Kita tidak bisa pungkiri bahwa se-Indonesia sudah merasakan manfaat QRIS. Kami berharap ini juga sangat bermanfaat di Kaltara, karena sektor yang paling dekat dan krusial dengan masyarakat di sini adalah transportasi,” kata Reza.
Menurutnya, penggunaan QRIS dapat mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap uang tunai, terutama bagi penumpang yang bepergian dalam jumlah besar.
“Biasanya kalau bepergian rombongan harus membawa uang tunai cukup banyak. Dengan QRIS, hal itu bisa diminimalisasi,” ujarnya.
Tak hanya bagi penumpang, penerapan pembayaran digital juga dinilai memberi keuntungan bagi agen tiket maupun pemilik speedboat, terutama dalam hal pengelolaan transaksi dan pencatatan keuangan.
“Dari sisi agen maupun dinas terkait, pencatatan keuangan dan retribusi menjadi lebih baik dan rapi. Selain itu, implementasi QRIS juga dapat membantu mengurangi potensi peredaran uang palsu karena penggunaan uang tunai semakin minim,” jelas Reza.
Ia menyebut, transformasi digital di sektor transportasi ini masih berada pada tahap awal. Karena itu, BI Kaltara membuka ruang evaluasi dan masukan dari masyarakat maupun pelaku usaha agar implementasi QRIS berjalan optimal.
Selain di pelabuhan, BI Kaltara juga terus mendorong penggunaan QRIS di pasar tradisional dan sektor UMKM melalui sosialisasi langsung kepada pedagang.
Reza menilai digitalisasi pembayaran harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya di tingkat pedagang eceran, tetapi juga hingga rantai distribusi.
“Percuma kalau pedagang pasarnya sudah pakai QRIS, tapi pembayaran ke distributornya masih tunai. Begitu juga di pelabuhan, kami ingin bukan hanya agen tiket, tetapi sampai distributor bahan bakar atau agen minyaknya juga bisa menggunakan QRIS atau transfer,” ucapnya.
Terkait keamanan transaksi digital, Reza memastikan sistem QRIS yang difasilitasi perbankan relatif aman karena dana transaksi langsung masuk ke rekening tujuan tanpa potongan maupun penundaan.
Meski begitu, ia mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi penipuan, seperti penggunaan stiker QRIS palsu.
“Secara sistem QRIS aman. Yang perlu diwaspadai adalah oknum yang menempelkan QRIS palsu. Jadi saat melakukan scan, masyarakat harus memastikan nama yang muncul di layar sesuai dengan tujuan pembayaran,” imbaunya.
Untuk mengantisipasi tindak penipuan dalam transaksi digital, Bank Indonesia Kaltara juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, perbankan, dan aparat penegak hukum.
BI Kaltara memastikan masyarakat yang mengalami kendala atau menjadi korban penipuan transaksi digital dapat melapor melalui kanal pengaduan resmi yang telah disediakan.(*)



