
NUNUKAN, Pembawakabar.com – Desa Binusan dinilai memiliki modal kuat untuk naik kelas menjadi desa wisata nasional. Mulai dari hutan primer, ekowisata mangrove, pantai, budaya lokal, hingga kesiapan infrastruktur dan homestay warga menjadi daya tarik yang diyakini mampu menarik perhatian pemerintah pusat.
Optimisme itu disampaikan H. Surai saat mendampingi kunjungan rombongan Kantor Staf Kepresidenan Republik Indonesia bersama Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Utara ke sejumlah destinasi wisata unggulan di Desa Binusan, Rabu (10/6/2026).
Menurutnya, Binusan memiliki kekayaan wisata yang jarang dimiliki daerah lain. Kawasan Taman Hutan Raya dengan hutan primer yang masih terjaga menjadi salah satu aset utama. Selain berfungsi sebagai kawasan konservasi, lokasi tersebut juga telah dimanfaatkan sebagai tempat kegiatan outbound bagi berbagai instansi karena didukung jalur trekking yang memadai.
“Berbagai jenis kayu yang ada di Indonesia hampir semuanya bisa ditemukan di sana. Hutan ini bukan hanya untuk konservasi, tetapi juga menjadi lokasi kegiatan outbound bagi ASN, TNI, dan Polri,” ujar H. Surai.
Tak hanya itu, rombongan juga diajak meninjau kawasan hutan mangrove di Desa Persiapan Ujang Patimah yang selama ini dikenal memiliki ekosistem pesisir yang masih terjaga. Kawasan tersebut menjadi habitat berbagai biota laut seperti kerang dan siput, sekaligus lokasi berbagai program rehabilitasi mangrove yang melibatkan organisasi kepemudaan dan masyarakat.
Kunjungan semakin semarak dengan penyambutan budaya khas daerah. Tarian tradisional hingga prosesi adat yang dipimpin para tokoh adat ditampilkan sebagai gambaran kekayaan budaya yang dimiliki masyarakat Binusan.
Bagi H. Surai, kehadiran pejabat dari Deputi IV Kantor Staf Kepresidenan yang membidangi pariwisata dan ketenagakerjaan menjadi momentum penting untuk memperjuangkan status Desa Binusan agar mendapat pengakuan resmi sebagai desa wisata dari Kementerian Pariwisata.
Saat ini, status desa wisata yang dimiliki Binusan masih berdasarkan Surat Keputusan Bupati. Karena itu, berbagai persyaratan terus dipenuhi, mulai dari pengembangan destinasi hingga penyelenggaraan agenda wisata tahunan.
Salah satu kegiatan unggulan yang menjadi kebanggaan masyarakat adalah Festival Rauti Dungguni Bersatu yang melibatkan empat negara serumpun, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam.
“Kita sudah memiliki event tahunan berskala internasional. Ditambah lagi ada hutan mangrove, taman hutan raya, Pantai Semangkadu, hingga kuliner khas daerah yang menjadi kekuatan besar untuk mendapatkan penetapan dari kementerian,” katanya.
Keunggulan lain yang dimiliki Binusan adalah aksesibilitas. Berada di Pulau Nunukan dan berdampingan dengan delapan kelurahan, desa ini dinilai memiliki kemudahan akses yang menjadi nilai tambah bagi pengembangan sektor pariwisata.
“Akses menuju lokasi wisata hanya sekitar 30 menit. Jaringan internet tersedia, listrik memadai, dan air bersih juga tersedia,” ujarnya.
Dari sisi kesiapan masyarakat, sedikitnya 20 rumah warga telah disiapkan sebagai homestay yang dapat digunakan wisatawan. Fasilitas dasar seperti kamar tidur dan kamar mandi juga telah tersedia.
Menurut H. Surai, konsep wisata berbasis masyarakat tersebut akan memberikan dampak ekonomi langsung kepada warga. Kehadiran wisatawan diharapkan mampu menggerakkan sektor UMKM, kuliner, hingga pemasaran produk kerajinan lokal.
Saat ini, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Binusan juga terus mengembangkan berbagai produk cendera mata berbahan baku hasil hutan dan sumber daya lokal sebagai bagian dari penguatan ekonomi kreatif masyarakat.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa status desa wisata nasional bukan sekadar pengakuan administratif. Penetapan tersebut akan membuka peluang lebih besar bagi daerah untuk mendapatkan dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK) dari pemerintah pusat guna membangun sarana dan prasarana pendukung pariwisata.
“Kalau statusnya sudah ditetapkan kementerian, peluang mendapatkan dukungan anggaran pusat tentu jauh lebih besar. Apalagi Nunukan merupakan wilayah perbatasan yang menjadi wajah Indonesia di beranda terdepan NKRI,” tegasnya.
Ia pun berharap berbagai potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Nunukan dapat semakin dikenal luas sehingga mendapat perhatian pemerintah pusat untuk mendukung pengembangan pariwisata di kawasan perbatasan.
“Kita ini kabupaten yang berbatasan langsung dengan negara lain. Sudah sewajarnya pemerintah pusat hadir mempercantik wajah Indonesia di perbatasan melalui sektor pariwisata,” pungkasnya. (*)




