Dugaan Keracunan MBG di Sebatik Tengah, 140 Siswa Ditangani Fasilitas Kesehatan

SEBATIK – Puluhan siswa sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah (MI) di Kecamatan Sebatik Tengah mengalami gejala muntah, sakit perut, dan diare usai mengonsumsi makanan bergizi gratis (MBG) pada Selasa (30/9). Hingga Rabu (1/10), total pasien yang ditangani berbagai fasilitas kesehatan mencapai 140 orang.

Kepala UPTD Puskesmas Sebatik Tengah, Hawalina, menjelaskan bahwa pihaknya menerima 82 pasien dengan keluhan serupa. Dari jumlah tersebut, seluruh pasien telah dipulangkan pada Rabu siang. Namun, masih ada delapan orang yang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pratama (RSP) Sebatik Tengah.

“Pasien terakhir di Puskesmas sudah dipulangkan jam 2 siang. Untuk yang dirujuk ke RSP, dari total 34 orang, sebanyak 22 pasien sudah pulang, 12 sempat dirawat, dan hingga kemarin masih tersisa 8 orang. Sementara di Puskesmas Sungai Nyamuk, ada 9 pasien, 7 sudah pulang, 2 lainnya masih dirawat,” terang Hawalina.

Sementara itu, tenaga medis Puskesmas Sebatik Tengah, Abdul Kadir, menuturkan bahwa mayoritas pasien mengalami muntah berulang, bahkan muntahan berisi sisa makanan yang dikonsumsi beberapa jam sebelumnya, seperti nasi dan potongan telur. “Gejala terbanyak memang muntah. Kami langsung lakukan penanganan standar, mulai dari pemasangan infus hingga pemberian obat-obatan,” ujarnya.

Terkait sumber keracunan, pihak kesehatan masih menunggu hasil uji laboratorium. Dugaan sementara berasal dari menu MBG berupa telur rebus, tahu, dan sayur capcay. “Kalau hasil pastinya belum bisa dipastikan. Itu nanti menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” kata Hawalina.

Program MBG di Sebatik Tengah sendiri dikelola oleh rekanan pemerintah melalui Puskesmas Haji Kuning, yang juga bertanggung jawab terhadap dapur pengolahan makanan. Menurut Abdul Kadir, dapur MBG di wilayah itu baru beroperasi selama dua hari sebelum insiden terjadi. “Ke depan, pengawasan sanitasi dapur akan lebih diperketat agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tegasnya.

Hawalina menambahkan, pihaknya sebelumnya telah memberikan pelatihan terkait pengolahan makanan sehat sesuai standar. Namun, untuk dugaan adanya kelalaian dalam proses penyediaan, ia menyerahkan sepenuhnya kepada pihak berwenang.

“Harapan kami, program MBG tetap berjalan karena sangat bermanfaat. Tetapi pengawasan dalam pengolahan harus ditingkatkan agar masyarakat tetap merasa aman,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan