
NUNUKAN, Pembawakabar.com – Lapangan Persikuba, Kuala Belawit, Krayan Barat, pada Minggu (16/8/2026), menjadi saksi perayaan Hari Ulang Tahun ke-13 Lembaga Adat Besar Dayak Lundayeh Krayan Barat. Perayaan berlangsung hangat, penuh warna adat, kebersamaan, serta semangat untuk menjaga warisan leluhur.
Kehadiran Bupati Nunukan disambut masyarakat Krayan Barat dengan rangkaian adat. Prosesi pembukaan palang pintu menjadi salah satu tanda penghormatan kepada tamu, disusul dengan atraksi menyumpit burung sebagai simbol dimulainya rangkaian kegiatan peringatan HUT lembaga adat.
Dalam sambutannya, Bupati Nunukan menyampaikan rasa bangga dan hormat atas perjalanan Lembaga Adat Besar Dayak Lundayeh Krayan Barat yang telah memasuki usia 13 tahun.
“Tiga belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Usia 13 tahun menunjukkan bahwa Lembaga Adat Lundayeh sampai saat ini bisa terus eksis dan diterima masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, lembaga adat memiliki peran penting dalam menjaga persatuan, budaya, nilai-nilai kehidupan dan kebersamaan masyarakat.
Ia menegaskan, peringatan ulang tahun tersebut bukan sekadar seremoni. Lebih dari itu, kegiatan menjadi ruang untuk berkumpul, bersilaturahmi, saling menguatkan, sekaligus mengingat kembali jati diri dan asal-usul masyarakat Lundayeh.
“Masyarakat Lundayeh di Krayan Barat memiliki kekayaan yang luar biasa. Bukan hanya kekayaan alam, tetapi juga kekayaan adat, budaya, bahasa, seni, tradisi dan semangat gotong royong yang diwariskan orang-orang tua kita,” katanya.
Warisan tersebut, lanjutnya, harus dijaga dan diteruskan kepada generasi berikutnya agar tidak hilang ditelan perubahan zaman.
Karena itu, anak-anak muda perlu diperkenalkan sejak dini dengan adat istiadat, budaya, bahasa serta kisah para leluhur. Dengan begitu, tumbuh rasa bangga menjadi bagian dari masyarakat Lundayeh.
Bupati juga mengapresiasi rangkaian kegiatan HUT yang tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga menggabungkan unsur budaya, olahraga dan pesan pembangunan, diantaranya lomba menyumpit dan tarik tambang.
“Kegiatan seperti ini jangan hanya dilaksanakan saat ulang tahun. Kalau memungkinkan, mari kita hidupkan terus kegiatan adat dan budaya di tengah masyarakat,” ajaknya.
Ia menambahkan, pembangunan tidak semata-mata berbicara tentang jalan, jembatan dan gedung. Pembangunan juga berarti membangun manusia sekaligus menjaga budaya dan adat istiadat yang menjadi identitas masyarakat.
Terkait pembangunan di wilayah Krayan dan kawasan pedalaman Nunukan, Bupati menegaskan pemerintah daerah akan terus memberikan perhatian, meski masih menghadapi keterbatasan anggaran dan kondisi geografis.
Ia menyampaikan, terdapat perangkat daerah yang memiliki tugas menangani dan mengelola pembangunan infrastruktur. Pemerintah juga akan berupaya menggunakan anggaran sesuai kemampuan keuangan daerah dan kebutuhan yang menjadi prioritas.
Dalam kesempatan itu, Bupati menyampaikan dukungan anggaran sebesar Rp 300 juta untuk 5 kepala adat Krayan Raya.
“Dengan terbatasnya keuangan kita, infrastruktur tetap perlu diperhatikan. Kita akan menggunakan dana sesuai anggaran yang ada,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan rencana pembangunan jalan Lembudud–Kurid yang akan dimulai secara multiyears pada 2027 dan ditargetkan dikerjakan hingga tuntas.
“Seperti visi dan misi saya bersama Pak Hermanus, akan kita tuntaskan perlahan,” ujarnya.
Sementara itu, Baru Ating selaku Kepala Adat Kecamatan Krayan Barat menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Nunukan, khususnya Bupati Nunukan, yang hadir langsung di tengah masyarakat Krayan Barat.
Baginya, kehadiran tersebut menjadi momen yang tidak mudah dilupakan oleh masyarakat.
“Kami sangat mengapresiasi pemerintah daerah yang langsung hadir ke Krayan Barat. Momen ini tidak akan pernah dilupakan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga berharap pemerintah kabupaten memberikan perhatian serius terhadap berbagai persoalan yang selama ini menjadi keluhan masyarakat, terutama kebutuhan pembangunan dan infrastruktur di wilayah Krayan Barat.
Perayaan HUT ke-13 Lembaga Adat Besar Dayak Lundayeh Krayan Barat kemudian ditutup dengan suasana penuh keakraban. Bupati Nunukan bahkan turut mencoba secara langsung beberapa perlombaan yang akan digelar, seperti menyumpit dan tarik tambang.
Di tengah tawa dan kebersamaan itu, pesan sederhana kembali menemukan tempatnya: adat bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah akar yang menjaga masyarakat tetap mengenal siapa dirinya.
Tiga belas tahun menjadi perjalanan. Dan perjalanan itu belum selesai. Lembaga adat diharapkan terus menjadi rumah bersama,tempat berkumpul, bermusyawarah, menjaga budaya, serta mempererat persaudaraan masyarakat Lundayeh di Krayan Barat.(Prokompim)




