Kontraktor Proyek Pembangunan Pemecah Ombak Ngelantur, Warga Akan Lakukan Aksi Boikot

Excavator Milik Kontraktor saat di tolak warga ingin mengambil batu penahan ombak di titik nol, foto Pembawakabar.com

NUNUKAN-Warga Desa Tanjung Aru naik Pitam atas ulah Kontraktor yang tidak mengindahkan permintaan warga dengan memindahkan batu penahan ombak dari titik nol atau titik terparah abrasi di desa Tanjung Aru ke titik lainnya.

Tokoh Pemuda Sebatik, Padlan saat ditemui, Minggu (18/4) mengatakan, kami masyarkat mulai melakukan pergerakan, karena adanya pemindahan batu yang telah tertanam rapi di titik nol itu yang panjangnya 200 Meter ke arah Utara atau bukit aru Indah.

Bacaan Lainnya

“Yang terdampak langsung kan adalah desa Tanjung Aru di rt 04 dan rt 16. dan sebanyak 18 rumah dari 28 tahun sudah menghadapi abrasi, yang jelas trauma dan perasaan masyarakat itu sangat di kecewakan  karena pemindahan batu itu,” ujar Padlan.

Menurutnya, proyek yang berjalan tersebut terlaksana karena bencana abrasi,  jika memang kontraktor pindahkan kita sebagai masyarakat mengamuk.   Ia menjelaskan bahwa dalam pertemuan di desa Tanjung aru, kontraktor sangat melantur, karena awalnya tidak akan memindahkan batu tersebut dari titik nol,  tetapi saat melaksanakan pekerjaan ternyata batu di titik nol tersebut di ambil oleh pekerjanya.

“Kita Masyarakat merasa curiga kontraktor ini tidak mengindahkan arahan masyarakat di pertemuan itu, jadi kita pastikan akan boikot pelaksanaan proyek ini,” pungkasnya

Terpisah,  Anggota DPRD Nunukan, Hamsing usai melaksankan reses menuturkan menerima keluhan warga yang menginginkan untuk di tindak lanjuti terkait pekerjaan pemecahan ombak di desa Tanjung Aru yang telah di laksanakan pihak kontraktor.

Baca Juga Dong:  Gubernur Kalimantan Utara luncurkan Gerakan Kaltara Cinta Zakat dan Wakaf

“Ini tadi ada keluhan Masyarakat yang kecewa karena kontraktor yang baru melakukan pekerjaan disitu mengambil batu yang ada di titik nol  200 Meter, Masyarakat keberatan dengan pemindahan batu yang telah terpasang rapi di titik nol itu karena yang terjadi abrasi besar-besaran   titiknya dititik nol itu di Desa Tanjung Aru, ini usulan warga yang paling penting mereka meminta untuk di pertahankan agar batu yang di titik nol itu untuk tidak di pindahkan,” Jelasnya.

Masyarakat sudah sejak lama berharap pembangunan pemecah ombak di wilayah tersebut secepatnya dilaksanakan. Dengan adanya realisasi anggaran yang diberikan Pemerintah melalui Provinsi yang sudah dilaksanakan tetapi yang sangat kita sesali pekerjaannya ingin menghindari titik abrasi yang sangat parah.

“Ini sudah bertahun-tahun di harapkan masyarakat  secepatnya di bangun pemecah ombak tetapi pekerjaan yang telah di laksanakan ini kok malah pekerjaannya mau menghindari titik abrasi yang parah yang sudah merusak jalan hingga putus  dan rumah warga. Ini menjadi pertanyaan besar mengapa kontraktor ini ingin memindahkan titik pekerjaannya sementara posisi terparah di titik nol itu,” tegas Hamsing.

“Laporan masyarakat yang kita terima, alasannya pihak kontraktor titik nol itu berlumpur dengan ketinggian 1,50 Meter. Kan tidak masuk akal, kalau berlumpur kan ada secara perencanaan sudah dibuat sebelum kontrak itu berjalan. Sementara di desa Tanjung Karang dan Desa Padaidi masih bisa terbangun kok, masa dengan alasan lumpur tidak bisa, padahal masyarakat yang lewat disitu bisa saja, tidak masuk akal alasan kontrakror itu,” Pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan