NUNUKAN, Pembawakabar.com– Masyarakat suku Tidung di Kabupaten Nunukan terus melestarikan tradisi menyalakan lampu magong atau pelita Ramadan sebagai wujud kegembiraan menyambut bulan suci Ramadan dan kegiatan ini rutin dilakukan setiap tahun menjelang ramadhan hingga lebaran.
Pelita khas ini biasanya dipasang di depan rumah atau halaman warga menjelang awal bulan puasa. Bagi mayoritas umat Muslim suku Tidung, tradisi ini menjadi simbol semangat dan kebahagiaan menyambut kedatangan bulan yang penuh berkah.
Menurut Juhari, panitia kegiatan, lampu magong umumnya dinyalakan selama tujuh malam pertama Ramadan. Tak hanya itu, tradisi ini juga diadakan kembali selama tiga malam berturut-turut di pertengahan bulan, serta saat malam takbiran menjelang Hari Raya Idulfitri hingga tiga malam setelah lebaran.
Warga yang memiliki kemampuan ekonomi lebih bahkan dapat menyalakannya setiap malam sepanjang Ramadan. Namun, bagi sebagian warga dengan keterbatasan ekonomi, pelita hanya dinyalakan pada tiga tahapan waktu tersebut.
“Tradisi lampu magong merupakan warisan budaya turun-temurun nenek moyang yang terus dijaga. Selain sebagai penerangan, lampu ini juga memiliki makna filosofis – harapan agar kehidupan masyarakat menjadi terang, penuh kebahagiaan, dan dilimpahi rezeki,” jelas Juhari, Kamis (19/3).
Untuk menambah kemeriahan, warga juga menggelar lomba pemasangan lampu magong dengan penilaian berdasarkan keindahan, kreativitas, dan variasi desain. Pemenang akan mendapatkan hadiah uang sebagai apresiasi sekaligus pengganti biaya bahan bakar lampu.
Dengan semangat kebersamaan, tradisi lampu magong tidak hanya mempererat tali silaturahmi antarwarga, tetapi juga menjadi identitas budaya yang tetap lestari di tengah masyarakat suku Tidung.(*)




