
Hal tersebut disampaikan Ketua Yayasan Litara, Edi Wahyu, usai menghadiri penutupan Program Sekolah Enuma Indonesia 2026 di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Malinau, Rabu (15/7/2026).
Edi menjelaskan, program ini memanfaatkan aplikasi pembelajaran interaktif yang dikembangkan Enuma Corporation untuk membantu anak belajar melalui metode bermain. Awalnya aplikasi tersebut difokuskan pada pembelajaran matematika dasar, kemudian dikembangkan dengan materi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
“Program ini sangat cocok digunakan untuk anak usia dini, mulai dari PAUD hingga sekitar kelas 3 atau 4 SD,” ujar Edi.
Di Kabupaten Malinau, pelaksanaan program dilakukan melalui kerja sama dengan 19 Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Selama empat tahun berjalan, sebanyak 1.227 anak telah terdaftar dan perkembangan belajarnya dipantau melalui sistem Learning Management System (LMS).
Melalui sistem tersebut, seluruh aktivitas belajar peserta dapat dipantau, mulai dari durasi belajar, materi yang telah diselesaikan, hingga capaian kemampuan pada mata pelajaran matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris.
Menurut Edi, salah satu keunggulan Sekolah Enuma Indonesia adalah sistem pembelajaran yang bersifat personal. Materi yang diberikan akan menyesuaikan kemampuan masing-masing anak sehingga mereka dapat belajar sesuai kecepatan tanpa merasa tertinggal.
“Setiap anak berkembang sesuai kemampuan dan kecepatan belajarnya masing-masing. Anak yang lebih cepat akan mendapatkan materi lanjutan, sementara yang membutuhkan waktu lebih lama tetap bisa belajar dengan nyaman,” jelasnya.
Edi juga mengungkapkan, hasil studi perbandingan pada 2023 menunjukkan capaian peserta Program Sekolah Enuma Indonesia di Malinau menjadi salah satu yang terbaik dibandingkan daerah lain yang mengimplementasikan program serupa. Peningkatan paling signifikan terlihat pada kemampuan bahasa Inggris para peserta.
Keberhasilan tersebut, lanjutnya, tidak lepas dari pendampingan Yayasan Litara bersama The Head Foundation, lembaga nirlaba asal Singapura yang turut mendukung implementasi program di sejumlah wilayah Indonesia.
Melihat hasil positif di Malinau, program ini kemudian diperluas ke Kabupaten Nunukan pada 2024 dan Kabupaten Bulungan pada 2025. Hingga kini, lebih dari 2.000 anak di Kalimantan Utara telah memanfaatkan aplikasi Sekolah Enuma Indonesia.
Edi menambahkan, setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda. Di Kabupaten Nunukan, misalnya, aplikasi tersebut terbukti membantu anak-anak yang mengalami keterlambatan belajar, termasuk peserta yang belum lancar membaca maupun anak berkebutuhan khusus.
Ke depan, Yayasan Litara berharap Sekolah Enuma Indonesia dapat menjadi alternatif pembelajaran yang melengkapi proses belajar di sekolah, khususnya bagi anak-anak yang membutuhkan pendampingan lebih intensif.
Ia menuturkan, kebutuhan utama dalam pengembangan program ini adalah ketersediaan perangkat tablet. Sementara itu, keterbatasan akses internet bukan menjadi kendala karena aplikasi mampu merekam data pembelajaran secara offline dan melakukan sinkronisasi secara berkala saat tersedia jaringan internet untuk keperluan evaluasi perkembangan belajar peserta.



