Samsatir Ungkap Tak Bisa Cairkan Dana di Rekening, Diduga Ada Kerjasama Abdul Latif dan Bank

Samsatir saat berada di lahan sawitnya yang di terbang.

NUNUKAN, Pembawakabar.com- Samsatir, petani kelapa sawit Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara) yang mempermasalahkan
bantuan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) menyatakan uang yang cair ke rekening petani sebesar Rp. 25 juta tidak bisa dicairkan.

Lantaran rekening petani tersebut diblokir oleh Abdul Latif selaku Ketua Gapoktan Mamminasae yang diduga bekerja sama dengan perbankan, kata Samsatir pada Sabtu, 17 Juli 2021.

Bacaan Lainnya

Ia mengaku pernah mempertanyakan kepada Latif perihal dana masuk ke rekening sebesar Rp25 juta yang tidak bisa dicairkan untuk kebutuhan lainnya.

“Si Latif mengakui kalau memang dia minta ke bank supaya bisa dicairkan kecuali melalui dirinya,” ungkap Samsatir.

Bahkan Samsatir pun pernah menanyakan ke bank perihal ini dan mendapatkan jawaban bahwa dana petani ini bisa cair apabila Latif yang datang mencairkannya.

Sehubungan dengan itu, pasca lebaran Idul Fitri 1442 H, Samsatir pernah dibawakan blangko pencairan bank yang kosong untuk ditandatanganinya.

“Waktu habis lebaran puasa baru-baru ini Latif pernah bawakan kertas warna merah muda mirip kertas pencairan di bank. Latif minta ditandatangan jadi kami tanda tangan saja,” ungkap dia.

Ia menuturkan menandatangani kertas itu dalam kondisi kosong karena tidak tau juga membaca. Samsatir menduga kertas yang ditandatanganinya itu adalah blangko pencairan di bank.

Anehnya, Samsatir bersama ratusan petani kelapa sawit yang tergabung dalam Gapoktan Mamminasae milik Latif, buku rekening miliknya tidak pernah diberikan lagi.

Baca Juga Dong:  KRI Tawau Tunda Pemulangan 187 PMI Akibat Kasus Covid-19 di Penjara dan Depot Tahanan Imigrasi Meningkat

Mengenai bantuan Rp25 juta dari Rp50 juta yang berhak diterimanya, Samsatir menceritakan bahwa alat berat pemotong batang kelapa yanh dijanjikan sampai sekarang tidak pernah digunakannya.

Padahal, janji Latif bahwa alat yang dibeli di Tawau Malaysia itu untuk keperluan semua petani yang menjadi anggotanya.

“Katanya itu alat berat ada tapi tidak pernah juga dilihat dan dipakai petani dengan alasan tidak bisa dipakai,” terang Samsatir menirukan ucapan Latif.

Sedangkan bibit yang dijanjikan memang ditepati sebanyak 302 batang untuk dua hektar lahannya. Namun Samsatir tetap mencurigai spesifikasinya tidak sesuai dengan aturan yang sebenarnya

“Katanya si Latif bibit yang dikasi kita itu dibeli di Medan dan sudah bersertifikat. Tapi kita tidak pernah juga lihat bukti pembeliannya apakah betul dibeli di Medan dan bersertifikat termasuk alat cincang batang tadi tidak pernah juga dikasi lihat bukti pembeliannya,” beber dia. (*)

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan